Pihak berwenang telah mengumumkan rencana untuk menaikkan biaya masuk di beberapa objek wisata utama, menyajikan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya keberlanjutan yang lebih luas. Namun bagi banyak pengamat, waktu pengambilan keputusan ini menimbulkan pertanyaan.
Bali memasuki tahun 2026 di bawah pengawasan internasional yang meningkat. Selama setahun terakhir, pulau ini menjadi berita utama tidak hanya karena masalah overtourism, tetapi juga karena proyek pembangunan yang kontroversial, pembongkaran pantai yang mendadak, serta langkah-langkah penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pengunjung asing. Dampak kumulatifnya adalah pengikisan citra Bali yang dulunya dikenal santai dan bebas.
"Bali tidak lagi bersaing hanya dalam hal keindahan," kata seorang operator hotel di bagian selatan pulau. "Sekarang Bali bersaing dalam hal persepsi, kejelasan, dan kepercayaan — dan di sanalah keadaan mulai goyah."
Meskipun data resmi terus menunjukkan ketahanan, para profesional di bidang pariwisata dan perhotelan menggambarkan realitas yang lebih lesu. Bulan Desember, yang secara tradisional merupakan salah satu bulan terkuat di Bali, dilaporkan menunjukkan aktivitas yang jauh lebih rendah dari yang diharapkan, dengan berkurangnya pengunjung berulang dan durasi menginap yang semakin pendek menjadi hal yang umum terjadi.
Dalam konteks tersebut, menaikkan biaya berisiko mengirimkan sinyal yang salah. "Ketika pengunjung sudah merasa ragu, harga yang lebih tinggi tidak akan mendorong kepercayaan diri," catat seorang analis pariwisata yang berbasis di Jakarta. "Hal ini justru memperbesar keraguan kecuali diimbangi dengan pengalaman pengunjung yang jelas meningkat."
Masalahnya bukan pada apakah Bali boleh menetapkan tarif lebih tinggi, melainkan apakah Bali telah merumuskan visi yang koheren untuk membenarkan hal tersebut. Tanpa komunikasi yang lebih jelas, stabilitas regulasi, dan investasi nyata dalam pengalaman pengunjung, keputusan harga berisiko terlihat reaktif dan bukannya strategis.
Bali tetap menjadi salah satu destinasi yang paling dikenal di dunia. Namun, pengakuan saja tidak lagi cukup. Di pasar regional yang lebih kompetitif, membangun kembali kepercayaan mungkin terbukti lebih penting daripada meningkatkan pendapatan.