Bali secara resmi melangkah menuju masa depan bertenaga listrik. Sebagai bagian dari visi jangka panjang untuk ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan, pulau ini bersiap untuk meluncurkan zona kendaraan listrik (EV) khusus—dimulai dari destinasi yang paling ikonik dan sering dikunjungi.
Dalam artikel ini, kita akan membahas di mana zona EV ini akan berlokasi, mengapa transisi ini dipercepat sekarang, dan apa dampaknya bagi pariwisata, infrastruktur, serta lanskap investasi di Bali.
Visi Bali Menjadi Pulau Listrik
Pemerintah Provinsi Bali telah ditunjuk sebagai wilayah percontohan nasional untuk adopsi kendaraan listrik, menandakan pergeseran besar dari transportasi berbahan bakar fosil. Gubernur I Wayan Koster menekankan bahwa keberhasilan inisiatif ini bergantung pada dua faktor kunci:
- Infrastruktur: Memperluas jaringan stasiun pengisian daya umum (SPKLU).
- Keterlibatan Publik: Kampanye berkelanjutan yang melibatkan masyarakat lokal, pelaku usaha, dan lembaga pemerintah.
Meskipun rencana ini sempat tertunda selama pandemi, pemulihan ekonomi Bali telah membuka jalan bagi implementasi penuh. Dengan bangkitnya sektor pariwisata, program kendaraan listrik kini menjadi prioritas utama provinsi.
Zona EV Akan Diluncurkan di Pusat Wisata Utama
Untuk memastikan transisi yang mulus, Bali memperkenalkan zona kendaraan listrik secara bertahap. Area pertama yang ditetapkan sebagai zona "Utama EV" atau "Hanya EV" meliputi:
- Ubud: Pusat budaya Bali, bertujuan menciptakan jalanan yang lebih tenang dan bersih.
- Sanur: Kawasan yang berkembang untuk pariwisata premium dan keluarga.
- Kuta: Destinasi pantai paling ikonik dengan lalu lintas tinggi di Bali.
- Nusa Dua: Kawasan resor mewah utama di pulau ini.
- Nusa Penida: Proyek unggulan untuk mobilitas hijau 100%.
Nusa Penida diposisikan sebagai "permata" dari inisiatif ini. Pulau tersebut memiliki target jangka panjang untuk mencapai 100 persen penggunaan kendaraan listrik pada tahun 2030, menjadikannya model nasional untuk mobilitas berkelanjutan di Indonesia.
Mengapa Kendaraan Listrik Semakin Diminati?
Menurut PT PLN, lonjakan minat terhadap EV didorong oleh biaya operasional yang jauh lebih rendah. Pengguna EV mendapatkan keuntungan berupa:
- Bebas biaya bahan bakar: Mengalihkan pengeluaran bensin ke tarif listrik yang lebih terjangkau.
- Perawatan Minimal: Tidak perlu ganti oli berkala dan perawatan mekanis yang rumit.
- Insentif Pemerintah: Potongan pajak dan subsidi yang membuat harga beli semakin kompetitif.
Secara nasional, jumlah mobil listrik tumbuh rata-rata 2,5 kali lipat per tahun, mencapai sekitar 175.000 unit pada tahun 2025.
Pertumbuhan EV di Bali: Mobil Listrik Memimpin
Pada tahun 2025, Bali mencatat sekitar 12.800 kendaraan listrik, melampaui banyak provinsi lain dalam tingkat adopsi. Sementara pertumbuhan motor listrik (roda dua) sempat melandai, EV roda empat (mobil) justru meledak secara signifikan.
Statistik Kunci: Mobil listrik di Bali tumbuh lebih dari 100% dalam beberapa tahun terakhir, dengan peningkatan luar biasa sebesar 130% yang tercatat pada tahun 2025 saja.
Sebagai bentuk komitmen, pemerintah provinsi kini mewajibkan penggunaan kendaraan listrik untuk seluruh jajaran mobil dinas operasional pemerintah.
Apa Artinya Bagi Masa Depan Bali
Langkah Bali menuju zona kendaraan listrik bukan sekadar pembaruan transportasi—ini adalah strategi untuk melindungi lingkungan pulau dan meningkatkan daya tarik bagi para "wisatawan sadar lingkungan." Dengan memposisikan diri sebagai destinasi berkelanjutan terkemuka di Asia Tenggara, Bali menciptakan pengalaman yang lebih bersih, tenang, dan modern bagi pengunjung maupun penduduk.
Apakah Anda berencana tinggal, berinvestasi, atau membangun bisnis di Bali? Transisi hijau ini dapat membentuk peluang investasi Anda berikutnya di sektor properti, energi, dan pariwisata ramah lingkungan.