Lelang seni merupakan cara yang menarik dan mudah diakses untuk mengembangkan koleksi Anda.
Bagi pengamat yang penasaran maupun pembeli pemula, lelang adalah proses memikat yang memberikan wawasan tentang dunia seni—dunia yang sering kali dianggap tertutup, penuh misteri, bahkan mengintimidasi.
Lelang membuka peluang bagi pembeli baru untuk memasuki pasar dengan harga yang sering kali jauh di bawah harga galeri, bahkan bisa lebih murah dibandingkan membeli langsung dari studio seniman.
Lelang Seni Tradisional, Modern, dan Kontemporer dari Larasati Auctioneer yang akan datang—berlokasi di Ubud, Bali, pada 8 Oktober—menawarkan 80 lot karya seni rupa dalam berbagai kategori, termasuk seni Indonesia dan Bali. Lelang ini mengakomodasi anggaran berbagai kalangan, mulai dari pembeli pemula dan kolektor menengah hingga para penikmat seni sejati.
Sejak Februari 2016, layanan penawaran (bidding) daring secara *real-time* telah tersedia melalui situs web Larasati, sehingga membuka akses lelang bagi audiens global. Akses internet *real-time* memungkinkan calon pembeli memantau harga ketuk palu (*hammer price*) untuk menilai kondisi pasar dan tingkat minat terhadap kategori atau lot tertentu, sekaligus memungkinkan penyesuaian strategi penawaran.
Salah satu daya tarik utama lelang Larasati yang diadakan dua kali setahun ini adalah beragamnya koleksi lukisan Bali bergaya modern-tradisional yang ditawarkan. Genre ini berkembang berkat pengaruh Asosiasi Seniman Pitamaha, yang didirikan pada tahun 1936 di Ubud untuk memantau pertumbuhan gaya seni tersebut guna memenuhi permintaan pasar baru yang tumbuh pesat seiring gelombang awal pariwisata di Bali.
Lot 561 'Burung-Burung Surgawi' karya Dewa Ketut Rungan (Larasati/Dokumentasi)
Dua karya menarik dari maestro Pitamaha yang patut disimak adalah Lot 565, *Perebutan Tirta Kamandalu* karya Anak Agung Gde Meregeg (1912-2000) dengan estimasi harga antara Rp60 juta (US$4.418) hingga Rp80 juta; serta Lot 575, *Sang Hyang Jaran* karya Tjokorda Oka Gambir (1902-1975), dengan estimasi harga antara Rp20 juta hingga Rp25 juta.
Lukisan-lukisan ini menawarkan peluang pembelian yang sangat baik jika diperoleh dalam kisaran estimasi harga yang dinilai masih di bawah nilai sebenarnya (*undervalued*). Kedua seniman tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan seni rupa Bali. Gambir adalah salah satu pendiri aliran seni lukis Ubud, sementara Meregeg—salah satu murid pertama Walter Spies (1895-1942)—merupakan kakek dari pelukis ternama asal Ubud, A.A. Anom Sukawati.
Pembeli baru memiliki peluang sangat baik untuk memasuki pasar melalui Lot 505, *Broken Triangle* (1990) karya Made Wianta, dengan estimasi harga antara Rp5 juta hingga Rp7 juta; Lot 510, *Dua Wanita Jawa* (1988) karya Bagong Kussudiardjo (1928-2004) dengan estimasi harga antara Rp6 juta hingga Rp8 juta; serta Lot 511, *Figur Wayang* (1990) karya Pande Gde Supada, dengan estimasi harga antara Rp6 juta hingga Rp8 juta. Baik Wianta maupun Supada memainkan peran penting dalam membentuk seni rupa modern dan kontemporer Bali pada tahun 1970-an.
Bagi pembeli yang bersedia menyimpan karya seni untuk jangka waktu 10 hingga 20 tahun, tersedia beberapa pilihan investasi jangka panjang yang menarik di sini. Lot 564, *Calonarang*, merupakan karya tinta di atas kertas oleh pelukis Sanur yang disegani, Ida Bagus Nyoman Rai (1915-2000), dengan estimasi harga antara Rp10 juta hingga Rp12 juta. Lot 566, *Mythological Scene*, adalah karya memukau dari Dewa Nyoman Leper (1917-1984) dengan estimasi harga antara Rp15 juta hingga Rp18 juta. Pande Made Dwi Artha, yang berusia sembilan belas tahun, merepresentasikan generasi baru pelukis Batuan yang berbakat; mereka menjanjikan masa depan cerah bagi genre seni Bali yang paling dicintai dan mendapat banyak pujian kritis ini. Karyanya yang dinamis dan memikat dalam menyoroti budaya korupsi, Lot 534 berjudul *People Are My Toys*, memiliki estimasi harga antara Rp7 juta hingga Rp9 juta.